Ini Efek sering Ganti Merk Oli

Oli mobil memang harus selalu diganti setiap beberapa ribu km tergantung kualitas oli, kebanyakan produsen oli terkenal (shell, pertamina, federal, dll) saat ini menganjurkan penggantian tiap 10 ribu km sekali meskipun pihak bengkel kadang menyarankan antara 5000-7000 km (jika jalanan sering macet). Nah lalu yang jadi pertanyaan bagaimana jika kita sering berganti merk oli? apakah boleh atau tidak..
Ada dua pendapat mengenai hal ini, ada yang mengatakan tidak apa-apa (boleh-boleh saja) dan ada yang mengatakan tidak boleh sering berganti merk oli karena perbedaan kualitas/ formula masing-masing pabrik.
Seperti diungkapkan oleh Acin, kepala mekanik Aneka Mitra Bengkel di Jakarta Barat bahwa sering berganti merk oli sebenarnya tidak masalah/ tidak apa-apa karena sebenarnya oli produen terkenal telah memakai standar tertentu yang sama misalnya kekentalannya (SAE JASO MA), yang membedakan hanya spesifikasi dan kualitasnya saja misalnya antara shell dan pertamina jika sama-sama memakai 10w-40 SAE artinya keduanya tidak masalah jika sering bergantian. Yang penting bukan oli palsu, ungkapnya
Akan tetapi pendapat lain datang dari Mardiani Indriastuti sebagai Kepala Departemen Produk PT. Federal Karyatama (Oli Federal) yang menyatakan bahwa sebenarnya oli yang dibuat produsen terkenal itu sudah bagus, pasti sudah sesuai standar secara international, akan tetapi tiap perusahaan pasti memiliki formula yang berbeda untuk membuat oli.
Oli sintetis bahkan dibuat dari campuran ratusan bahan sehingga tetap ada sedikit perbedaannya, misalnya oli A dipakai lebih enteng dari oli B padahal secara spesifikasi sama, nah ini adalah tergantung campuran material dan zat aditif yang dipakai.
Setiap mengganti oli pasti ada sisa oli yang melekat pada komponen di dalam mesin misalnya piston, batang silinder, dll. Bahayanya jika sering berganti oli sisa oli yang masih di dalam mesin tersebut akan bercampur dengan oli baru yang memiliki kandungan kimia berbeda, hal ini bisa menyebabkan residu/ endapan berupa jell atau seperti balsem dan bahkan mungkin juga menjadi kerak, ungkap Iwan Abdurrahman, Kepala Bengkel Toyota Astra Motor.
Menurut sebagian orang lebih amannya saat akan mengganti oli bari dengan melakukan flashing atau pembilasan terlebih dahulu, yang dimaksud flashing adalah saat oli lama dikuras akan ada sisanya di dalam mesin lalu masukkan oli baru dan hidupkan mesin agar oli lama dan baru bercampur kemudian kuras kembali. Terakhir isi dengan oli baru dan selesai
Kalau admin www.mobilku.org memilih pendapat yang tengah-tengah artinya tidak apa gonta-ganti merk oli asalkan tidak terlalu sering (sengaja gonta-ganti), jika hanya untuk mencari mana oli yang cocok memang perlu mencoba oli lain (dengan spek yang direkomendasikan produsen mobil) meskipun sebenarnya kita cukup memakai oli yang disarankan mekanik bengkel resmi.
Nah mengganti oli mesin dengan merk yang berbeda boleh saja asal tidak terlalu sering dan dengan spesifikasi yang diminta pabrikan mobil, oli yang dipakaipun asli dan dari produsen terkenal (punya reputasi/ nama baik).
www.mobilku.org mengatakan seperti itu karena pernah mengalami sendiri saat sebelumnya memakai oli prima xp 20w-50 (di bengkel biasa), kemudian ke bengkel remi disarankan memakai oli mereka (lupa merknya) dengan spek 10w-40. Pihak bengkel juga langsung menggantinya tanpa flashing, nah bahkan bengkel resmi mengganti merk oli juga kekentalannya bahkan tanpa flashing. (artinya boleh dong), ternyata terbukti tarikan mobil terasa jauh lebih enteng :-)

Tidak ada komentar:

Isi komentar disini