Cara Membersihkan Filter Udara Mobil

www.mobilku.org - Filter udara pada mobil memegang peranan yang cukup penting dalam menjaga tenaga yang dihasilkan mobil, karena filter udara mobil digunakan untuk menyaring udara yang masuk ke ruang bakar. Udara yang berkualitas dapat meningkatkan performa mesin baik tenaga maupun umur hidup mesin, udara berkualitas baik yang dimaksud adalah udara yang bersih (tanpa kotoran atau debu) dan udara dengan suhu yang dingin.

Mesin Mobil Bergetar atau Asap Putih

www.mobilku.org - Permasalahan pada mesin mobil sering terjadi adalah penurunan performa mesin seperti tenaga/ akselerasi, getaran mesin yang lebih besar, sampai munculnya asap putih pada knalpot mobil. Kali ini kita akan membahas mengenai cara mengidentifikasi kerusakan mesin melalui gejala dan sedikit pemeriksaan.
Hal yang kerap terjadi pada mesin mobil adalah mesin pincang dan asap putih, mesin pincang disini berarti

New Suzuki Splash Matic Harga Spesifikasi

www.mobilku.org - New Suzuki Splash Matic adalah penggabungan mobil perkotaan (jenis city car) dengan mobil jenis MPV, Suzuki Splash tidak bisa dimasukkan dalam golongan mobil city car akan tetapi mobil ini lebih cocok masuk kategori Crossover atau Mini MPV (penggabungan MPV
dan City Car). Kelebihan mobil jenis Crossover ini

Mengatasi Mobil Mogok Kepanasan Overheat

www.mobilku.org - Pecinta otomotif mungkin sering menemui atau bahkan mengalami mobil tiba-tiba mogok karena kepanasan (overheat mesin), ya mobil overheat memang sering terjadi pada mobil-mobil yang dipaksa melakukan kerja secara terus-menerus (tanpa istirahat) pada track-track berat

Mobil Matic Dibandingkan Manual Kelebihan Kekurangan

www.mobilku.org - Mobil matic dan mobil manual? mungkin pecinta otomotif ingin mengulas lagi tentang sistem transmisi mobil jaman sekarang, ya jika dahulu kita mengenal mobil dengan sistem transmisi (perpindahan gigi) dilakukan secara manual

PERBEDAAN ACTUAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH STOCK SPLIT PADA PERUSAHAAN YANG LISTING DI BEI PERIODE 2005-2008 Hasil Penelitian

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia merupakan bursa saham terbesar yang ada di Indonesia, Bursa Efek Indonesia menawarkan peluang investasi serta sumber pembiayaan dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Sejarah Bursa Efek Indonesia dimulai sejak jaman penjajahan Belanda yaitu dengan didirikannya Bursa Efek di Batavia yang merupakan pusat pemerintahan kolonial Belanda yang saat ini dikenal sebagai Jakarta, di mana setelah pecahnya perang dunia, kegiatan bursa di Indonesia dihentikan.
Bursa Efek Indonesia kembali diaktifkan dengan diterbitkannya Obligasi Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 tetapi kembali terhenti saat pemerintah meluncurkan program nasionalisasi tahun 1956. Kebangkitan kembali pasar modal Indonesia dimulai pada tahun 1970 di mana pada saat itu terbentuk Tim Uang dan Pasar Modal, kemudian tahun 1976 berdiri BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Hal ini ditindaklanjuti dengan diresmikannya aktivitas perdagangan Bursa Efek Indonesia oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977 dengan ditandai dengan PT. Semen Cibinong sebagai perusahaan pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia yang pada saat itu menerbitkan saham dengan harga perdana Rp 1000,00 per lembar saham.
Perdagangan dan kapitalisasi pasar saham meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1990 dengan peningkatan perkembangan pasar finansial dan sektor swasta. Pada tanggal 13 Juli 1992, Bursa Saham tersebut diswastanisasi dan bernama PT. Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia), hal ini mengakibatkan beralihnya fungsi BABEPAM yang pada awalnya sebagai Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi Badan Pengawas Pasar Modal.
Kegiatan Pasar Modal semakin ramai dan kompleks, peningkatan investasi dan transaksi perdagangan saham semakin banyak, sehingga pada tanggal 22 Mei 1995 Bursa Efek Indonesia merubah sistem perdagangan menjadi otomatis (komputerisasi), sistem otomatis tersebut memungkinkan Bursa Efek Indonesia melakukan transaksi dengan jumlah dan variasi yang besar dengan waktu yang sangat singkat. Sistem ini dikenal dengan Jakarta Automated Trading System (JATS). Dengan adanya sistem tersebut para pialang dan investor dapat memonitor aktivitas perdagangan yang terjadi di Bursa efek secara langsung dan pelaksanaan order jual dan beli bisa berjalan dengan cepat dan transparan.
Dalam prakteknya perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mendukung kelangsungan perusahaan, baik itu pada pasar finansial ataupun riil. Kebijakan-kebijakan yang diambil dapat bermacam-macam, mulai dari stock split, warrant, right issue, pembagian deviden dan lain sebagainya.
Penelitian ini sengaja mengambil kebijakan stock split sebagai kebijakan yang diteliti, yakni untuk mengetahui sejauh mana aktivitas stock split berpengaruh pada return saham dan volume perdagangan saham perusahaan tersebut. Penelitian ini mengambil populasi perusahaan yang terdaftar di BEI yang melakukan kebijakan stock split di Bursa Efek Indonesia selama periode 01 Januari 2005 sampai 31 Desember 2008.
2. Gambaran Umum Obyek Sampel
Berikut ini adalah gambaran umum dari perusahaan/ emiten yang menjadi sampel dalam penelitian ini:
a. PT. Ciputra Surya. Tbk
PT. Ciputra Surya Tbk didirikan pada tanggal 1 Maret 1989, perusahaan ini bergerak di bidang property dan real estate. Perusahaan ini berkantor pusat di Taman Perkantoran Citra Raya, Jalan Citra Raya Kav. 1 Surabaya. PT. Ciputra Surya. Tbk melakukan stock split tanggal 25 Juli 2005.
b. PT. Hexindo Adiperkasa. Tbk
PT. Hexindo Adiperkasa Tbk didirikan pada tanggal 28 November 1988 yang berkantor pusat di Jalan Pulo Kambing II Kav.1-2 Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta. Perusahaan ini tercatat bergerak di bidang perdagangan besar barang produksi, perdagangan dan penyewaan alat berat, menyediakan jasa perbaikan dan pemeliharaan serta penjualan suku cadang. Perusahaan ini telah melakukan stock split sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 29 Juli 2002 dan 1 September 2005.

c. PT. Arpeni Pratama Ocean Line. Tbk
PT. Arpeni Pratama Ocean Line Tbk didirikan pada tanggal 4 Oktober 1975 dan bergerak di bidang transportasi, perusahaan ini berkantor pusat di Wisma BSG Lantai 7 Jalan Abdul Muis No. 40 Jakarta. Perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 24 November 2006.
d. PT. Lippo Karawaci. Tbk
PT. Lippo Karawaci. Tbk didirikan pada tanggal 15 Oktober 1990, perusahaan ini bergerak di bidang property dan real estate, PT. Lippo Karawaci. Tbk berkantor pusat di Menara Matahari Lantai 22, Jl. Bulevar Palem Raya No. 7 Lippo Karawaci Central Tangerang.  Perusahaan ini melakukan stock split sebanyak 2 kali, yaitu tanggal 28 Juli 2006 dan 26 Desember 2007.
e. PT. Pelayaran Tempuran Mas. Tbk
PT. Pelayaran Tempuran Mas. Tbk didirikan pada tanggal 17 September 1987 dengan alamat kantor pusat di Jl.Tembang No. 51 Tanjung Priok Jakarta. Perusahaan ini bergerak dalam bidang pelayanan transportasi maritim. Perusahaan ini  melakukan stock split tanggal 17 Maret 2006.
f. PT. Pembangunan Jaya Ancol. Tbk
PT. Pembangunan Jaya Ancol. Tbk didirikan pada tanggal 10 Juli 1992 yang bergerak dalam bidang usaha pariwisata, real estate, dan perdagangan dan jasa. PT. Pembangunan Jaya Ancol. Perusahaan ini melakukan stock split tanggal 10 Juli 2006.
g. PT. Global Mediacom. Tbk
PT. Global Mediacom Tbk didirikan pada tanggal 30 Juni 1981 dengan alamat kantor pusat di Jalan Kebon Sirih No. 17-19 Jakarta. Perusahaan ini bergerak dalam bidang investasi. Perusahaan dikenal dengan nama PT. Bimantara Citra, melakukan stock split pada tanggal 24 April 2007.
h. PT. Davomas Abadi. Tbk
PT. Davomas Abadi Tbk didirikan pada tanggal 14 Maret 1968 dengan alamat kantor pusat di Jl. Pangeran Jayakarta 117 Blok B/35-39. Perusahaan ini bergerak dalam bidang makanan dan minuman. Perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 17 Desember 2004 dan 28 Mei 2007.
i. PT. Aneka Tambang (Persero). Tbk
PT. Aneja Tambang (Persero). Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan logam dan mineral lainnya, perusahaan ini berkantor pusat di Gedung Aneka Tambang Jl. Letjen TB. Simatupang No. 1 Lingkar Selatan Jakarta. Perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 12 Juli 2007.
j. PT. AKR Corporindo. Tbk
PT. AKR Corporindo Tbk didirikan pada tanggal 28 November 1977, berkantor pusat di Wisma Akr lantai 7-8 Jalan Panjang No. 5 Kebun Jeruk Jakarta. Perusahaan ini bergerak dibidang perdagangan besar barang produksi, perusahaan ini telah melakukan stock split pada tanggal 27 Juli 2007.
k. PT. Semen Gresik. Tbk
PT. Semen Gresik. Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri semen. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 25 Maret 1953 dengan kantor pusat di Jalan Veteran Gresik Surabaya. Perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 7 Agustus 2007.
l. PT. Charoen Pokphand Indonesia. Tbk
PT. Charoen Pokphand Indonesia. Tbk didirikan pada tanggal 07 Januari 1972, beralamat di Jl. Ancol VIII/1 Jakarta Utara dan bergerak di bidang pakan ternak. Perusahaan ini melakukan stock split sebanyak tiga kali yaitu pada tanggal 12 Mei 1997, 15 Januari 2001 dan 1 November 2007.
m. PT. Jaya Pari Steel. Tbk
PT. Jaya Pari Steel. Tbk didirikan pada tanggal 18 Juli 1973, perusahaan ini bergerak di bidang logam dan sejenisnya. PT. Jaya Pari Steel. Tbk menjadi emiten di BEI sejak tanggal 4 Agustus 1989, melakukan stock split sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 16 Oktober 1997 dan 12 Desember 2007.
n. PT. Bank Central Asia. Tbk
PT. Bank Central Asia. Tbk didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955, perusahaan ini bergerak di bidang bank. PT. Bank Central Asia. Tbk berkantor pusat di Wisma BCA Jl. Jend. Sudirman Kav.22-23 Jakarta, Perusahaan ini melakukan stock split sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 15 Mei 2001 dan 28 Januari 2008.
o. PT. International Nickel Indonesia. Tbk
PT. International Nickel Indonesia. Tbk didirikan pada tanggal 25 Juli 1968, perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan logam dan mineral lainnya yang berkantor pusat di Bapindo Plaza II Lantai 22 Jl. Jend Sudirman Kav. 54-55 Jakarta. Perusahaan ini melakukan stock split sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 3 Agustus 2004 dan 15 Januari 2008.
p. PT. Delta Dunia Petroindo. Tbk
PT. Delta Dunia Petroindo. Tbk didirikan pada tanggal 26 November 1990, perusahaan ini bergerak di bidang industri garmen atau pakaian jadi, yang berkantor pusat di Cyber 2 Tower 28th floor, Jl. HR Rasuna Said Blok X-5, No.13. PT. Delta Dunia Petroindo, perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 15 April 2008.
q. PT. Timah Persero. Tbk
PT. Timah Persero. Tbk didirikan pada tanggal 17 April 1961, perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan logam dan mineral lainnya. PT. Timah Persero. Tbk berkantor pusat di Jl. Teuku Cik Ditiro No. 56 A, perusahaan ini melakukan stock split pada tanggal 18 Agustus 2008.

B. Deskripsi Data
1. Return Saham
Return saham merupakan tingkat keuntungan yang dinikmati oleh investor atas suatu investasi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, dalam penelitian ini return yang digunakan adalah actual return yaitu return riil yang dihitung dengan membandingkan antara harga saham pada saat t (Pt) dikurangi harga saham pada saat t-1 (Pt-1) dibanding harga saham pada saat t (Pt), dimana hasil perhitungan return dapat dilihat dalam lampiran 2. Setelah menghitung return saham kemudian dilanjutkan dengan menghitung rata-rata return saham dimana hasilnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return harian selama kurun 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah pelaksanaan stock split. Berikut ini disajikan hasil perhitungan rata-rata return saham selama periode pengamatan yaitu 5 hari sebelum dan 5 hari setelah stock split pada masing-masing perusahaan sampel. Berikut disajikan perhitungan rata-rata return saham masing-masing perusahaan sampel.





Tabel 4.1 Rata-rata Return Saham Masing-masing Perusahaan Sampel Sebelum dan Sesudah Stock Split

No
Kode Emiten
Rata-rata Return Saham
Selisih
Keterangan
Sebelum
Sesudah
1
CTRS
0,0000800
0,0064740
0,006394
Kenaikan
2
HEXA
0,009204
0,008282
-0,00092
Penurunan
3
TMAS
0,03033
0,00012
-0,03021
Penurunan
4
PJAA
0,019124
0,00603
-0,01309
Penurunan
5
LPKR
0,010404
0,000026
-0,01038
Penurunan
6
APOL
0,008512
-0,008184
-0,0167
Penurunan
7
BMTR
0,011042
-0,001012
-0,01205
Penurunan
8
DAVO
0,003562
-0,003202
-0,00676
Penurunan
9
ANTM
0,010514
0,004014
-0,0065
Penurunan
10
AKRA
0,02135
-0,001734
-0,02308
Penurunan
11
SMGR
-0,00293
-0,008024
-0,00509
Penurunan
12
CPIN
0,025172
0,005774
-0,0194
Penurunan
13
JPRS
0,005848
-0,024916
-0,03076
Penurunan
14
INCO
0,008338
-0,050664
-0,059
Penurunan
15
BBCA
0,009536
0,000048
-0,00949
Penurunan
16
DOID
0,004964
0,02393
0,018966
Kenaikan
17
TINS
-0,009972
-0,047134
-0,03716
Penurunan
18
Rata-rata
0,009710471
-0,005304235
-0,015013529
Penurunan

Sumber : Lampiran 1


Pada tabel 4.1 dapat terlihat bahwa perusahaan yang mengalami kenaikan return saham sesudah stock split sebanyak 2 perusahaan dan yang mengalami penurunan return saham sesudah melakukan stock split sebanyak 15 perusahaan. Perusahaan yang mengalami kenaikan return saham paling besar sesudah melakukan stock split adalah PT. Delta Dunia Petroindo. Tbk (DOID) yaitu sebesar 1,8966 % dan perusahaan yang mengalami penurunan return saham sesudah melakukan stock split paling besar adalah (TINS) yaitu sebesar 3,716 %. Karena banyaknya perusahaan sampel yang mengalami penurunan return, sehingga secara keseluruhan rata-rata return seluruh perusahaan sampel mengalami penurunan.
Untuk mengetahui pergerakan rata-rata return saham harian selama pengamatan, maka dibutuhkan rata-rata return saham harian untuk masing-masing periode penelitian. Berikut ini disajikan rata-rata return saham untuk masing-masing periode.
Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Rata-rata Return Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split

Sebelum Stock Split
Sesudah Stock Split
Periode
Rata-rata Return Saham
Periode
Rata-rata Return Saham
t-5
0,011369412
t+1
-0,017458235
t-4
0,011711765
t+2
-0,00371882
t-3
0,014143529
t+3
-0,000591765
t-2
0,013075882
t+4
0,007564118
t-1
0,00458
t+5
-0,011076471
Rata-rata
0,010976
Rata-rata
-0,00506

Sumber: Lampiran 2

Berdasarkan tabel 4.2 untuk mengetahui pergerakan rata-rata return saham sebelum dan sesudah stock split dengan lebih mudah, maka tabel 4.2 digambarkan dalam bentuk grafik seperti pada gambar 4.1 berikut.
Gambar 4.1 Grafik Pergerakan Rata-rata Return Saham untuk 17 Perusahaan Sampel Sebelum dan Sesudah Stock Split

Dari gambar 4.1 menunjukkan bahwa terjadi pergerakan return saham pada periode sebelum dan sesudah stock split yang tidak bisa dipastikan, hal ini terlihat dari terjadinya return negatif dan return positif pada periode pengamatan. Return positif tertinggi terjadi pada t-3 (1,4143 %) dan return negatif terendah terjadi pada t+1 (- 1,7458 %).
Dari gambar 4.1 terlihat tren penurunan return saham terjadi mulai t-2 terus menurun tajam sampai return terendah yaitu periode t+2, setelah itu return mulai meningkat secara perlahan.
2. Trading Volume Activity
Trading volume activity (TVA) merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter aktivitas volume perdagangan di pasar. TVA dilakukan dengan cara membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham yang beredar pada perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama. Jumlah saham yang beredar dan jumlah saham yang diperdagangkan dapat dilihat pada lampiran 1, penghitungan TVA dapat dilihat pada lampiran 2, dan penghitungan rata-rata TVA pada lampiran 3.
Untuk mengetahui pergerakan TVA (naik atau turun), berikut disajikan hasil perhitungan rata-rata TVA saham masing-masing perusahaan sampel seperti tabel 4.3.

Tabel 4.3 Rata-rata Trading Volume Activity Saham Masing-masing Perusahaan Sampel Sebelum dan Sesudah Stock Split

No
Kode Emiten
TVA
Selisih
Keterangan
Sebelum
Sesudah
1
CTRS
0,0015819
0,007547483
0,005965583
Kenaikan
2
HEXA
0,00107322
0,0009452
-0,00012802
Penurunan
3
APOL
0,005744003
0,001292341
-0,004451662
Penurunan
4
LPKR
0,00397425
0,000588188
-0,003386062
Penurunan
5
TMAS
0,003274456
0,0025609
-0,000713556
Penurunan
6
PJAA
0,001374
0,0010434
-0,0003306
Penurunan
7
BMTR
0,0012932
0,0047156
0,0034224
Kenaikan
8
DAVO
0,00083418
0,00008424
-0,00074994
Penurunan
9
ANTM
0,012173139
0,002324411
-0,009848728
Penurunan
10
AKRA
0,022072115
0,017634615
-0,0044375
Penurunan
11
SMGR
0,000832502
0,000569112
-0,00026339
Penurunan
12
CPIN
0,016461071
0,017552724
0,001091653
Kenaikan
13
JPRS
0,003493333
0,003679333
0,000186
Kenaikan
14
BBCA
0,004815254
0,001884306
-0,002930948
Penurunan
15
INCO
0,002090931
0,000663225
-0,001427706
Penurunan
16
DOID
0,00285096
0,0007884
-0,00206256
Penurunan
17
TINS
0,025044605
0,004818757
-0,020225848
Penurunan
Rata-rata
0,006410772
0,00404072
-0,002370052
Penurunan

Sumber : Lampiran 1

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa perusahaan yang mengalami kenaikan volume aktivitas perdagaangan saham sesudah melakukan stock split sebanyak 4 perusahaan dan yang mengalami penurunan volume aktivitas perdagangan saham sebanyak 13 perusahaan.
Kenaikan volume perdagangan yang dialami 4 perusahaan bervariasi besarnya, kenaikan volume perdagangan terbesar dialami PT. Ciputra Surya. Tbk yakni sebesar 0,59655 % sedangkan kenaikan volume perdagangan terkecil dialami oleh PT. Jaya Pari Steel. Tbk yakni sebesar 0,0186%.
Perusahaan yang mengalami penurunan volume aktivitas perdagangan sejumlah 13 perusahaan. Penurunan volume aktivitas perdagangan saham terbesar dialami oleh PT. Timah (Persero). Tbk sebesar 2,0226% dan perusahaan yang mengalami penurunan volume aktivitas perdagangan saham paling kecil adalah PT. Hexindo Adiperkasa. Tbk yakni sebesar 0,0128%.
Dari data di atas dapat pula dilihat secara cepat bahwa rata-rata perusahaan mengalami penurunan volume aktivitas perdagangan pada periode pengamatan, dari hasil perhitungan 17 emiten setelah melakukan aktivitas stock split terjadi penurunan volume aktivitas perdagangan saham dengan rata-rata penurunan sebesar 0,237 %.
Perubahan trading volume activity juga bervariasi untuk tiap pengamatan atau per periode, dalam 10 window period tercatat rata-rata trading volume activity terbesar justru ada pada saat 2 hari sebelum pelaksanaan stock split, hal ini ditunjukkan oleh tabel 4.4 dimana pada periode t-2 rata-rata TVA mencapai titik tertinggi yakni sebesar 0,8916 %, tabel 4.4 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Rata-rata Trading Volume Activity Sebelum dan Sesudah Stock Split per periode

Sebelum Stock Split
Sesudah Stock Split
Periode
Rata-rata Trading Volume Activity
Periode
Rata-rata Trading Volume Activity
t-5
0,004631891
t+1
0,004154108
t-4
0,004656823
t+2
0,004608226
t-3
0,007789491
t+3
0,003995723
t-2
0,008916236
t+4
0,003839813
t-1
0,006059408
t+5
0,003605729
Rata-rata
0,00641077
Rata-rata
0,00404072

Sumber : Lampiran 3
                
Berdasarkan tabel 4.4 di atas, untuk lebih mudah mengetahui pergerakan rata-rata TVA saham sebelum dan sesudah stock split, sebagaiman gambar 4.2.

Gambar 4.2 Pergerakan Rata-rata Trading Volume Activity Saham untuk 17 Perusahaan Sampel Sebelum dan Sesudah Stock Split

Dari tabel 4.4 dan gambar 4.2 di atas, dapat dilihat dengan jelas perubahan rata-rata TVA dimana pada periode t-4 rata-rata TVA sebesar 0,4656 % dan mulai menunjukkan peningkatan rata-rata TVA, rata-rata TVA terus bergerak naik sampai periode t-2 yakni sebesar 0,8916 %, setelah itu rata-rata TVA menurun dengan perlahan sampai titik terendah pada periode t+5 yakni sebesar 0,3605 %, hasil perhitungan terhadap rata-rata TVA saham pada periode pengamatan menunjukkan rata-rata TVA terendah justru terjadi pada periode t+5.
C. Pengujian Normalitas
Pengujian normalitas diperlukan guna menentukan uji hipotesis yang akan digunakan, dalam uji normalitas akan menghasilkan data yang normal atau tidak normal.
Data yang normal (berdistribusi normal) akan membentuk kurva yang simetris, jika data berdistribusi normal maka alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah statistik parametrik dengan uji rata-rata dua kelompok sampel berpasangan atau uji t, sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka alat analisis yang digunakan adalah statistik non parametrik menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test.
Untuk melakukan uji normalitas ini menggunakan Kolmogorov Smirnov Test (K-S) yang terdapat pada program SPSS. Suatu data dikatakan berdistribusi normal jika probabilitas nilai K-S ≥ α (dengan taraf signifikansi = 0,05), jika probabilitas nilai K-S < α maka data tersebut berdistribusi tidak normal. Taraf signikansi ( α ) ditetapkan sebesar 0,5. Adapun hasil dari uji K-S adalah seperti dalam tabel 4.5
 Setelah dilakukan uji normalitas data pada masing-masing variabel, didapat hasil seperti pada tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Variabel
Variabel
Signifikansi 2-tailed
Distribusi
Actual return Saham Sebelum
0,116
Normal
Actual return Sesudah
0,090
Normal
TVA Sebelum
0,000
Tidak Normal
TVA Sesudah
0,000
Tidak Normal

Sumber: Lampiran 4


D. Hasil Pengujian Hipotesis
1. Pengujian Perbedaan Actual Return Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split
Dari hasil uji normalitas data ditemukan bahwa data acual return saham sebelum dan sesudah stock split berdistribusi normal, sehingga untuk uji hipotesis perbedaan actual return saham sebelum dan sesudah stock split menggunakan uji berpasangan (Paired Sample T Test).
Setelah dilakukan uji beda dengan menggunakan Paired Sample T Test didapatkan hasil seperti pada tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6 Hasil Uji Beda Actual Return Sebelum dan Sesudah Stock Split
Uji Beda (Paired Sample T Test)
N
Sig.2 tailed
Kesimpulan
Actual return sebelum stock split dengan actual return sesudah stock split
85
0,007
H0 ditolak

Sumber: Lampiran 5
Dari hasil uji beda actual return sebelum dan sesudah stock split menggunakan Paired Sample T Test memiliki nilai signifikansi dibawah 0,05 (0,007) . Hal ini menyatakan bahwa H0 ditolak dan Hditerima, yang mengartikan terdapat perbedaan yang signifikan antara actual return sebelum stock split dan sesudah stock split.
2. Pengujian Perbedaan Trading Volume Activity Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split
Dari hasil uji normalitas data ditemukan bahwa data trading volume activity (TVA) saham sebelum dan sesudah stock split memiliki distribusi yang tidak normal, hal ini menyebabkan perbedaan alat uji beda hipotesis pada uji trading volume activity dengan alat uji hipotesis actual return saham, untuk uji hipotesis perbedaan trading volume activity saham sebelum dan sesudah stock split kali ini menggunakan alat uji peringkat tanda Wilcoxon (Wilcoxon Signed Ranks Test).
Tabel 4.7 Hasil Uji Beda Trading Volume Activity Sebelum dan Sesudah Stock Split

Uji Beda (Wilcoxon Signed Ranks Test)
N
Sig.2 tailed
Kesimpulan
TVA sebelum stock split dengan TVA sesudah stock split
85
0,002
H0 ditolak

Sumber: Lampiran 6
Dari hasil uji beda trading volume activity sebelum dan sesudah stock split menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test memiliki nilai signifikansi dibawah 0,05 (0,002) . Hal ini menyatakan bahwa H0 ditolak dan Hditerima, yang mengartikan terdapat perbedaan yang signifikan antara trading volume activity sebelum stock split dan sesudah stock split.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas lebih lanjut mengenai perbedaan actual return saham dan trading volume activity saham sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI periode 2005-2008.
A. Kondisi Actual Return Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan yang Listing di BEI periode 2005-2008

Berdasarkan perhitungan rata-rata actual return saham masing-masing perusahaan sampel sebelum peristiwa stock split pada perusahaan yang listing di BEI periode 2005-2008, diketahui bahwa rata-rata actual return masing-masing perusahaan sampel cenderung turun, penurunan hampir terjadi pada keseluruhan sampel. Penurunan rata-rata actual return saham dapat dilihat pada tabel 4.1 yang mana dari 17 sampel perusahaan, yang mengalami kenaikan rata-rata actual return hanya 2 perusahaan, sedangkan 15 perusahaan lain mengalami penurunan rata-rata actual return.
Dari tabel 4.1 dapat dilihat rata-rata actual return sebelum stock split sebesar 0,009710471, setelah melakukan stock split tingkat rata-rata actual return turun menjadi -0,005304235, dari tingkat penurunan tersebut dapat diambil selisih penurunan sebesar 0,015013529 atau turun sebesar 1,5013529 %. Hal ini cukup mengejutkan, karena penurunan tersebut cukup besar yaitu 1,546117 kali dari actual return sebelum stock split, yang mana hal itu menyebabkan actual return menjadi negatif (perusahaan mengalami kerugian).
Berdasarkan tabel 4.2 dan gambar 4.1 didapatkan data pergerakan penurunan rata-rata actual return saham pada periode sebelum dan sesudah stock split di mana rata-rata actual return saham tertinggi justru terjadi pada saat sebelum stock split (t-3) yakni sebesar 1,4143 % dan rata-rata actual return saham terendah terjadi sehari setelah pelaksanaan stock split yaitu t+1 sebesar  -1,7458 %. Dari peristiwa itu dapat dilihat besarnya return negatif yang dialami perusahaan setelah melakukan stock split.
Dari gambar 4.1 terlihat tren penurunan rata-rata actual return saham terjadi mulai t-2 terus menurun tajam sampai rata-rata actual return saham terendah yaitu periode t+1, setelah itu rata-rata actual return mulai meningkat secara perlahan sampai t+4 akan tetapi tidak dapat melebihi rata-rata actual return saham sebelum stock split yang kemudian menurun secara tajam pada t+5. Dari gambar 4.1 terlihat bagaimana sulitnya actual return untuk bisa naik seperti pada saat sebelum pelaksanaan stock split, di mana kenaikan actual return hanya berhasil pada periode ke 4 setelah pelaksanaan stock split dan hal itu tidak berlangsung lama di mana pada periode ke 5 actual return kembali mengalami penurunan yang tajam.
Pada gambar 4.1 ditemukan rata-rata actual return saham meningkat dengan titik tertinggi pada t-3, di mana pada saat itu dimungkinkan pasar melakukan antisipasi atau bentuk spekulasi terhadap kebijakan stock split yang akan dilaksanakan. Pada t-2 rata-rata actual return saham mulai menurun, hal ini mungkin disebabkan oleh berkurangnya reaksi pasar terhadap peristiwa stock split karena reaksi positif pasar telah habis pada saat t-3, selanjutnya pada saat (t-2) rata-rata actual return saham cenderung menurun, bahkan terus menurun sampai saat pelaksanaan stock split, dan rata-rata actual return saham terus menurun sampai mencapai titik terendah yaitu pada saat periode ke 1 setelah pelaksanaan stock split. Secara keseluruhan rata-rata actual return sesudah stock split lebih rendah dari pada rata-rata actual return sebelum stock split.
Dari uraian di atas mengenai penurunan rata-rata actual return saham setelah melakukan stock split sesuai dengan penelitian yang dilakukan Marwata (2001) bahwa stock split merupakan fenomena yang membingungkan, yang disimpulkan secara sederhana pemecahan saham merupakan suatu kosmetika saham atau merupakan upaya pemolesan saham yang dilakukan oleh perusahaan agar saham terlihat lebih menarik di mata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor atau pemegang saham.
Hasil penelitian penulis juga memiliki kesamaan dengan Marwata (2001:162) yang menyatakan bahwa “Hasil analisis dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan yang melakukan pemecahan saham yang diukur dengan laba bersih maupun laba per saham, tidak lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak melakukan pemecahan saham”, hal ini
Hal senada juga diungkapkan oleh Ewijaya dan Indriantoro (1998) dalam Kurniawati (2003) menyimpulkan bahwa “stock split berpengaruh secara negatif terhadap perubahan harga saham secara signifikan”. Ini mengandung arti bahwa stock split tidak berpengaruh secara signifikan pada return atau harga saham.
Menurut kajian peneliti, pemecahan saham yang diharapkan akan berdampak positif terhadap peningkatan return saham (signaling theory) ternyata tidak selalu benar. Peneliti menganggap alasan bahwa pemecahan merupakan signal bagus yang coba diberikan ke pasar bisa saja direspon terbalik oleh pasar, yakni bahwa perusahaan yang melakukan pemecahan saham adalah perusahaan yang buruk, jika perusahaan itu memang dalam kondisi baik maka perusahaan tersebut tidak perlu melakukan pemecahan saham. Jadi tujuan mengisyaratkan sinyal positif pada pasar, yang selanjutnya diharapkan pasar akan merespon sinyal tersebut dengan sama positif masih belum terbukti.
B. Kondisi Trading Volume Activity Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan yang Listing di BEI periode 2005-2008
Dari perhitungan rata-rata trading volume activity saham masing-masing perusahaan sampel sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI periode 2005-2008, diketahui bahwa rata-rata trading volume activity (TVA) saham pada masing-masing perusahaan sampel juga mengalami penurunan setelah peristiwa stock split. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.3 yang mana dari 17 sampel perusahaan hanya terdapat 4 perusahaan mengalami kenaikan rata-rata TVA saham sedangkan sisanya sebanyak 13 perusahaan mengalami penurunan rata-rata TVA saham. Penurunan rata-rata TVA saham pada sampel adalah sebesar 0,2370052% yang diperoleh dari selisih rata-rata TVA sebelum stock split dengan rata-rata TVA sesudah stock split.
Pada tabel 4.4 dan gambar 4.2 dapat diketahui bahwa dalam 10 window period rata-rata trading volume activity tertinggi justru terjadi pada saat sebelum stock split atau 2 hari sebelum pelaksanaan stock split (t-2) dengan nilai rata-rata TVA saham sebesar 0,8916 %, dan nilai rata-rata TVA saham terendah justru terjadi setelah pelaksanaan stock split, yakni 5 hari sesudah stock split (t+5). Hal ini mengindikasikan bahwa pasar merespon peristiwa stock split pada hari ke 2 sebelum pelaksanaan stock split, reaksi pasar dengan peningkatan rata-rata TVA bukan terjadi pada saat sesudah stock split akan tetapi pada sebelum stock split.
Dari gambar 4.2 dapat terlihat menjelang dan setelah pelaksanaan stock split tingkat perdagangan saham terus mengalami penurunan, paling tidak sampai periode ke 5 setelah stock split. Dari gambar 4.2 dapat terlihat bahwa setelah pelaksanaan stock split tingkat perdagangan saham selama 5 hari tidak dijumpai 1 hari pun rata-rata TVA lebih baik dari rata-rata TVA sebelum stock split. Hal ini mengejutkan karena rata-rata TVA dalam 5 periode setelah stock split kesemuanya tidak dapat melebihi rata-rata TVA pada 5 windows period sebelum stock split.
Titik tertinggi rata-rata TVA sesudah stock split adalah pada (t+2) sebesar 0,004608226, nilai tertinggi rata-rata TVA sesudah stock split pada (t+2) ini masih lebih rendah dari pada nilai terendah rata-rata TVA sebelum peristiwa stock split yang terjadi pada (t-5) sebesar 0,004631891. Kondisi ini juga menggambarkan bagaimana rata-rata TVA terus menurun setelah dilakukannya stock split sampai hari ke 5 setelah stock split.
Dari penelitian yang telah dilakukan dengan adanya penurunan rata-rata TVA sesudah stock split  ini tidak mendukung trading range theory, yang menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.
Dari uraian di atas, penurunan TVA saham sesudah peristiwa stock split sesuai dengan penelitian yang dilakukan Kurniawati (2003:274) bahwa pengujian tingkat likuiditas saham (volume perdagangan saham) antara sebelum dan sesudah stock split memiliki perbedaan yang tidak signifikan. Dari penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa terjadi penurunan likuiditas setelah peristiwa stock split.
Penurunan likuiditas saham atau TVA saham juga ditemukan dalam penelitian Akmila dan Kusuma (2003:49) menyimpulkan bahwa terjadi penurunan tingkat likuiditas saham setelah peristiwa stock split dan penurunan tersebut bersifat tidak signifikan.
Peningkatan likuiditas saham ada pada penelitian Muazaroh dan Iramani (2006:59) menyatakan bahwa terjadi peningkatan likuiditas saham setelah peristiwa stock split, yang ditunjukkan oleh nilai TVA saham setelah stock split lebih besar dibandingkan TVA saham sebelum stock split, akan tetapi nilainya tidak signifikan. Hal ini bisa juga dikatakan tidak mengalami peningkatan TVA karena peningkatan tersebut tidak signifikan.
Menurut kajian peneliti, ada dua hal yang mungkin menyebabkan pemecahan saham yang diyakini dapat meningkatkan likuiditas saham karena menurunnya harga saham tidak terbukti. Pertama menurut peneliti, yang menyebabkan perubahan kenaikan TVA bukan semata-mata terletak pada harga yang lebih murah, akan tetapi lebih pada besaran tingkat pengembalian investasi atau return saham, jika return saham nilainya besar/ naik maka TVA akan cenderung naik dan jika return saham mengalami penurunan maka tingkat aktivitas perdagangan saham (TVA) juga akan mengalami penurunan. Sedangkan alasan yang ke dua, bahwa pemecahan saham ditujukan pada nilai nominal saham, bukan pemecahan harga pada pasar. Hal ini artinya bisa saja setelah nominal harga yang tercatat pada saham dipecah, harga saham di pasar tidak ikut pecah atau ikut pecah akan tetapi tidak mencerminkan pemecahan harga yang tercatat di saham, hal ini bisa saja terjadi karena harga saham yang tercatat pada saham saat ini tidak selalu sama dengan harga saham tersebut di pasar.
C. Perbedaan Actual Return Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan yang Listing di BEI periode 2005-2008
Dari hasil uji hipotesis sebagaimana tabel 4.6 yang menguji perbedaan actual return antara sebelum dan sesudah stock split, didapatkan nilai signifikansi dibawah 0,05 yakni 0,007, hai ini mengindikasikan penolakan H0 dan penerimaan H1, menyatakan terdapat perbedaan actual return saham antara sebelum dan sesudah stock split yang signifikan.
Perbedaan yang signifikan tersebut juga didukung dengan data pada tabel 4.1 di mana mayoritas perusahaan setelah melakukan stock split akan mengalami penurunan actual return saham. Pada gambar 4.1 juga terlihat jelas perbedaan actual return saham antara sebelum dan sesudah stock split, di mana actual return saham periode sesudah stock split lebih kecil jika dibandingkan actual return sebelum stock split.
Pada tabel 4.2 dan tabel 4.6 digabungkan, dapat dibaca secara bersamaan bahwa terdapat penurunan yang signifikan actual return saham sesudah perusahaan melakukan stock split. Di mana tabel 4.2 menyatakan tentang penurunan actual return saham sementara tabel 4.6 menggambarkan tentang seberapa besar signifikansi perbedaan tersebut, sekaligus menyatakan bahwa perbedaan actual return saham sebelum dan sesudah stock split adalah signifikan.
Perbedaan yang signifikan ini terjadi 5 hari sebelum dan setelah pelaksanaan stock split, di mana actual return telah mengalami penurunan selama 5 hari setelah stock split jika dibandingkan dengan return saham selama 5 hari sebelum melakukan stock split.
Hasil penelitian di atas mendukung penelitian yang dilakukan oleh Marwata (2001) bahwa stock split merupakan fenomena yang membingungkan, yang disimpulkan secara sederhana pemecahan saham merupakan suatu kosmetika saham atau merupakan upaya pemolesan saham agar terlihat lebih menarik di mata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor atau pemegang saham.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan stock split tidak terdapat kenaikan return saham atau  justru terjadi penurunan return saham, seperti penelitian Ewijaya dan Indriantoro (1998) dalam Kurniawati (2003) yang menyimpulkan bahwa “stock split berpengaruh secara negatif terhadap perubahan harga saham secara signifikan”.
Berkaitan dengan teori yang mendasari pemecahan saham yaitu signaling theory yang menyatakan bahwa pemecahan saham dilakukan untuk memberikan signal positif pada investor yang diharapkan akan meningkatkan permintaan saham di pasar, maka penelitian ini kurang mendukung teori tersebut. Alasan pertama adalah hasil penelitian yang tidak mendukung teori tersebut, yang ke dua adalah pendapat penulis bahwa kemungkinan pasar akan merespon sinyal positif tersebut dengan negatif, karena anggapan bahwa jika perusahaan tersebut benar-benar dalam kondisi baik maka perusahaan tidak perlu melakukan stock split.
D. Perbedaan Trading Volume Activity Sebelum dan Sesudah Stock Split pada Perusahaan yang Listing di BEI periode 2005-2008
Dari uji beda yang telah dilakukan pada TVA saham sebelum dan sesudah stock split sebagaimana pada tabel 4.7 diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan trading volume activity antara sebelum stock split dengan trading volume activity sesudah stock split.
Dari tabel 4.3 diketahui rata-rata perusahaan yang melakukan stock split mengalami penurunan trading volume activity saham, sedangkan dari tabel 4.7 juga diketahui terdapat perbedaan yang signifikan trading volume activity antara sebelum stock split dengan trading volume activity sesudah stock split. Jika pada ke dua tabel tersebut digabungkan maka dapat dibaca bahwa terdapat perbedaan trading volume activity saham antara sebelum dan sesudah stock split yang signifikan.
Berdasarkan trading range theory menyatakan bahwa pemecahan saham akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham atau trading volume activity saham. Penelitian ini tidak mendukung teori tersebut, di mana hasilnya peristiwa stock split dapat menurunkan trading volume activity saham. Mengenai pergerakan penurunan rata-rata trading volume activity saham harian dapat dilihat pada gambar 4.2.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati (2003:274) yang menyatakan bahwa pengujian tingkat likuiditas saham (volume perdagangan saham) antara sebelum dan sesudah stock split memiliki perbedaan yang tidak signifikan. Dari penelitian Kurniawati (2003:274) juga menunjukkan bahwa terjadi penurunan likuiditas setelah peristiwa stock split meskipun penurunan tersebut tidak signifikan.
Penurunan TVA berbeda dengan penelitian Muazaroh dan Iramani (2006:59) yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan likuiditas saham setelah peristiwa stock split, yang ditunjukkan oleh nilai TVA saham setelah stock split lebih besar dibandingkan TVA saham sebelum stock split, akan tetapi nilainya tidak signifikan. Dari kesimpulan penelitian Muazaroh dan Iramani (2006) di atas, secara tidak langsung juga mengatakan bahwa stock split tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada peningkatan TVA saham.
Menurut peneliti, penurunan trading volume activity saham terjadi karena kondisi pasar yang masih belum efisien, jika pasar tersebut efisien dimungkinkan tidak akan terjadi perubahan terhadap trading volume activity saham yang signifikan, karena stock split pada dasarnya tidak memberikan peningkatan return bagi investor.
Kesimpulan yang dapat diambil oleh peneliti adalah bahwa stock split merupakan fenomena yang membingungkan, di mana tidak adanya dampak positif terhadap return saham dan trading volume activity saham, seperti pernyataan Marwata (2001) bahwa stock split merupakan fenomena yang membingungkan, yang disimpulkan secara sederhana pemecahan saham merupakan suatu kosmetika saham atau merupakan upaya pemolesan saham agar terlihat lebih menarik di mata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor atau pemegang saham.

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari analisis perbedaan actual return saham dan trading volume activity saham antara sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI periode 2005-2008, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Terdapat penurunan actual return saham setelah perusahaan melakukan stock split.
2.      Terdapat penurunan trading volume activity saham setelah perusahaan melakukan stock split.
3.      Untuk hasil uji perbedaan actual return dan trading volume activity adalah:
a.   Terdapat perbedaan actual return saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah perusahaan melakukan stock split.
b.   Terdapat perbedaan trading volume activity saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah perusahaan melakukan stock split.
B. Saran
Kepada peneliti yang tertarik mengambil topik tentang pemecahan saham baik dengan variabel actual return atau TVA, sebaiknya memperbesar periode pengamatan (windows period) mengingat sebagian peneliti menemukan peningkatan return dan TVA saham terjadi 3 sampai 4 tahun sebelum stock split, sehingga hasilnya lebih dapat menggambarkan kondisi actual return serta TVA saham sebelum dan sesudah peristiwa stock split yang lebih tepat.

DAFTAR RUJUKAN

Akmila, F & Kusuma, H. 2003. The Effect Of Stock Split On The Stock LiquidityThe Journal Of Accounting, Management, Economics Research, Vol 3: 35-39.
Anoraga, P & Pakarti, P.2003. Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Asdi Mahasatya
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Darmadji, T & Fakhruddin, H. 2001. Pasar Modal di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat
Halim, A. 2003. Analisis Investasi. Jakarta: Salemba Empat
Husnan, S. 2001. Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas (Edisi Ketiga). Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPKN.
Jogiyanto, 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPFE.
Khomsiyah & Sulistyo. 2001. Faktor Tingkat Kemahalan Harga Saham, Kinerja Keuangan Perusahaan, dan Keputusan Pemecahan Saham (Stock Split): Aplikasi Analisis Diskriminan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 16 (4): 388-400.
Kurniawati, I. 2003. Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Non-synchronous Trading. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 6 (3): 264-275.
Marwata. 2001. Kinerja Keuangan, Harga Saham, dan Pemecahan Saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 4(2): 154-164.
Muazaroh & Iramani, Rr. 2006. Analisis Kinerja Keuangan, Kemahalan Saham dan Likuiditas pada Pemecahan Saham. Ventura,Vol  9 (1):45-60
Sunariyah. 2000. Pengantar: Pengetahuan Pasar Modal. (Edisi kelima). Yogyakarta: STIM YKPKN.
Suta, A. 2000. Menuju Pasar Modal Modern. Jakarta: SAD Satria Bhakti.
Sutrisno, W. dkk. 2000. Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 2(2): 1-13.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal: I-3.  diakses 1 Mei 2010.

Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Makalah, Laporan Penelitian. Malang: Biro Administrasi Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi bekerjasama dengan Penerbit Universitas Negeri Malang.
Www. duniainvestasi.com (transaksi harga saham dan volume perdagangan saham harian) diakses 20 maret 2010.

 DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Rata-rata Actual Return dan Trading Volume Activity
Kode Emitten
Rata-rata Actual Return
Rata-rata Trading Volume Activity
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
CTRS
0,0000800
0,0064740
0,0015819
0,007547483
HEXA
0,009204
0,008282
0,00107322
0,0009452
TMAS
0,03033
0,00012
0,005744003
0,001292341
PJAA
0,019124
0,00603
0,00397425
0,000588188
LPKR
0,010404
0,000026
0,003274456
0,0025609
APOL
0,008512
-0,008184
0,001374
0,0010434
BMTR
0,011042
-0,001012
0,0012932
0,0047156
DAVO
0,003562
-0,003202
0,00083418
0,00008424
ANTM
0,010514
0,004014
0,012173139
0,002324411
AKRA
0,02135
-0,001734
0,022072115
0,017634615
SMGR
-0,00293
-0,008024
0,000832502
0,000569112
CPIN
0,025172
0,005774
0,016461071
0,017552724
JPRS
0,005848
-0,024916
0,003493333
0,003679333
INCO
0,008338
-0,050664
0,004815254
0,001884306
BBCA
0,009536
0,000048
0,002090931
0,000663225
DOID
0,004964
0,02393
0,00285096
0,0007884
TINS
-0,009972
-0,047134
0,025044605
0,004818757
Rata-rata
0,009710471
-0,005304235
0,006410772
0,00404072


Lampiran 2 : Rata-rata Return Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split untuk Masing-masing Periode


Sebelum Stock Split
Sesudah Stock Split
Periode
Rata-rata Return Saham
Periode
Rata-rata Return Saham
t-5
0,011369412
t+1
-0,017458235
t-4
0,011711765
t+2
-0,00371882
t-3
0,014143529
t+3
-0,000591765
t-2
0,013075882
t+4
0,007564118
t-1
0,00458
t+5
-0,011076471
Rata-rata
0,010976
Rata-rata
-0,00506



Lampiran 3 : Rata-rata Trading Volume Activity Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split untuk Masing-masing Periode

Sebelum Stock Split
Sesudah Stock Split
Periode
Rata-rata Trading Volume Activity
Periode
Rata-rata Trading Volume Activity
t-5
0,004631891
t+1
0,004154108
t-4
0,004656823
t+2
0,004608226
t-3
0,007789491
t+3
0,003995723
t-2
0,008916236
t+4
0,003839813
t-1
0,006059408
t+5
0,003605729
Rata-rata
0,00641077
Rata-rata
0,00404072


Lampiran 4 : Hasil Uji Normalitas Data menggunakan K-S
                                                                                                               

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Actual Return Sebelum Stock Split
Actual Return Setelah Stock Split
TVA Sebelum Stock Split
TVA Setelah Stock Split
N
85
85
85
85
Normal Parameters(a,b)
Mean
,0097104706
-,0053042353
,0064107698
,0040407198
Std. Deviation
,03421035606
,03605643369
,00911763088
,00566497224
Most Extreme Differences
Absolute
,129
,135
,242
,255
Positive
,067
,115
,229
,255
Negative
-,129
-,135
-,242
-,239
Kolmogorov-Smirnov Z
1,193
1,244
2,231
2,355
Asymp. Sig. (2-tailed)
,116
,090
,000
,000
a  Test distribution is Normal.
b  Calculated from data.


Lampiran 5 : Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Actual Return Sebelum dan Sesudah Stock Split menggunakan Paired Sample T-Test

Paired Samples Test
Paired Differences
t
df
Sig. (2-tailed)
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the Difference
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
Upper
Lower

Pair 1
Actual Return SebelumStock Split - Actual Return Setelah Stock Split
,01501470588
,04970904116
,00539170253
,00429271411
,02573669765
2,785
84
,007

Lampiran 6 : Hasil Uji Hipotesis Perbedaan Trading Volume Activity Sebelum dan Sesudah Stock Split menggunakan Peringkat Tanda Wilcoxon

         &nbsp:                                                                      Ranks
N
Mean Rank
Sum of Ranks
Trading Volume Activity Sesudah Stock Split - Trading Volume Activity Sebelum Stock Split
Negative Ranks
55(a)
46,31
2547,00
Positive Ranks
30(b)
36,93
1108,00
Ties
0(c)
Total
85












a  Trading Volume Activity Sesudah Stock Split < Trading Volume Activity Sebelum Stock Split
b  Trading Volume Activity Sesudah Stock Split > Trading Volume Activity Sebelum Stock Split
c  Trading Volume Activity Sesudah Stock Split = Trading Volume Activity Sebelum Stock Split

                                                Test Statistics(b)

Trading Volume Activity Sesudah Stock Split - Trading Volume Activity Sebelum Stock Split
Z
-3,153(a)
Asymp. Sig. (2-tailed)
,002
a  Based on positive ranks.
b  Wilcoxon Signed Ranks Test

(CATATAN: GAMBAR-GAMBAR DISINI TIDAK BISA DISIMPAN SEMPURNA DALAM POSTING INI, MOHON MAAF JIKA PEMBACA HARUS MENATA KEMBALI DAN MEMILAH. HAL INI DISEBABKAN KARENA BLOGGER YANG MASIH BELUM SEMPURNA UNTUK UPLOAD DATA SEBESAR INI, TRIMS)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Bab III sebelumnya di  www.membelimobil.blogspot.com/2012/11/perbedaan-actual-return-dan-trading_5632.html