Situs Otomotif, mobil, mesin, eksterior, interior, akselerasi, kapasitas, spesifikasi, kecepatan, tenaga, konsumsi BBM, cc, modifikasi, terbaru, bekas, harga, fitur, dimensi, panjang, irit, kekurangan, kelebihan, bensin, solar, ban, suspensi, offroad, city car, hatchback, SUV, MPV, minibus, pick up, jip, sedan, 4x4, crossover, toyota, honda, suzuki, daihatsu, mitsubishi, bmw, chevrolet, mazda, isuzu, kia, nissan, ford, kijang, carry, avanza, jazz, freed, escudo, yariz, brio, panther, pajero

Mesin Rusak akibat Salah pilih Oli

Oli memiliki fungsi sebagai pelumas komponen mesin saat bergesekan, pelindung komponen dari karat, membersihkan mesin dari kotoran, dan oli juga berperan untuk pendingin mesin.
Nah mengingat pentingnya fungsi oli maka dalam memilih oli tidak boleh sembarangan, kesalahan dalam memakai oli yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan bisa menyebabkan kegagalan salah satu fungsi oli seperti fungsi pelumasan tidak optimal ke seluruh komponen (akibat oli terlalu kental atau terlalu encer).
Saat memproduksi sebuah mesin, perusahaan akan mencantumkan spasifikasi oli yang digunakan seperti SAE berapa (kekentalan), API (teknologi mesin dan oli), dan lain sebagainya. API dan SAE ini bisa dibaca pada artikel sebelumnya membaca kode pada kemasan oli mobil
Memakai oli yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan bisa berreseiko mesin jebol/ mesin retak sehingga ada kebocoran yang menyebabkan oli kemasukan air dari sistem pendingin dan menyebabkan kerusakan serius pada komponen dalam mesin.
Oli terlalu kental
Ambil contoh mesin yang seharusnya memakai oli 10w-40 diisi dengan yang lebih kental misalnya 20w-50, oli yang kental menyebabkan sulitnya partikel-partikel oli masuk ke celah-celah sempit sehingga bagian-bagian tertentu pada mesin tidak bisa terlumasi dengan baik. Hal ini menyebabkan ausnya komponen tersebut saat dipaksa bergerak/ bergesekan tanpa pelumasan, ini yang menyebabkan overheat (panas berlebih) akibat gesekan dan dampak buruknya akan merusak metal mesin (metal jadi retak), biasanya metal mesin yang retak akan menyebabkan air merembes masuk ke dalam mesin yang seharusnya hanya untuk oli saja, masuknya air ke ruang mesin ini memperparah kerusakan.
Tanda-tanda air masuk ke ruang oli adalah saat oli di tab berwarna keputihan (seperti susu)
Oli terlalu encer
Sama dengan kasus diatas misalnya standar mesin memakai oli 10w-40 diisi dengan 0w-20 (oli yang encer), kelemahannya oli encer ini tidak maksimal dalam melumasi celah-celah komponen yang lebar. Oli kental dapat lebih baik melumasi celah lebar akan tetapi oli yang lebih encer misal 0w-20 tidak mampu melumasi celah yang ideal untuk oli 10w-40.
Nah memakai oli yang terlalu encer dan terlalu kental ternyata sama-sama berdampak buruk pada mesin jebol/ retak, solusinya adalah gunakan oli yang sesuai dengan standar pabrikan... jika mesin memakai SAW 10w-40 maka pakailah oli dengan SAE 10w-40, jika mesin menginginkan oli yang memakai kode API SL (tahun 2004) jangan memakai oli dengan kode API SF (untuk mesin tahun 80 an).
Bedakan pula antara oli mesin bensin dan mesin diesel karena dari kemasannya sudah tertera kodenya kita bisa mengetahui spesiikasi dan peruntukan oli tersebut untuk mobil mesin bensin/ diesel, dan apakah sesuai dengan mesin mobil kita atau tidak.
Oli mesin yang tepat
Untuk mengetahui oli yang tepat kita bisa membaca buku manual mobil kita, atau kalau tidak punya buku manual bisa tanya ke customer service APM masing-masing lewat telepon, atau jika ingin lega pecinta otomotif bisa datang ke bengkel resmi APM dan melakukan service ganti oli sambil menanyakan spesifikasi oli yang dipakai mobil.
Oli yang tepat membuat mesin ringan (tarikan ringan), mesin tidak berbunyi gemertak, dan yang pasti mesin lebih awet serta minim resiko mogok dijalan. so gunakan selalu oli yang tepat.
Awas oli palsu
Nah salah satu yang paling berbahaya adalah memakai oli palsu yang mana tidak ada standar kekentalannya dan juga standar material serta teknologinya. Oli palsu ini jauh lebih berbahaya daripada salah oli saja, memakai oli palsu ibaratnya salah kuadrat. mesin bisa langsung rusak
untuk menghindari oli palsu caranya:
1. Ganti di bengkel resmi APM
2. Beli/ Ganti oli di bengkel resmi pabrikan oli misalnya: toko distributor resmi castrol/ shell/ pertamina/ yang lain
3. Hindari membeli oli yang terlalu murah
4. Jika ada isilah dengan oli merk terkenal tapi lagsung dari drum (drum-druman), karena yang biasa dipalsukan adalah oli kalengan (kemasan 1 liter sampai 4 liter)
5. ciri fisik: warna/ bau/ tekstur:
* Perbedaan oli asli dan palsu dilihat dari warna, biasanya oli asli berwarna bening sedangkan oli palsu berwarna lebih gelap/ pekat/ buram
* Dari bau oli, oli asli memiliki bau yang khas sedangkan oli palsu biasanya baunya seperti ada bekas pembakaran, hal ini terkait dengan oplosan
* Kekentalan oli, biasanya oli asli lebih encer daripada oli palsu
* Tekstur cairan oli, biasanya oli asli lebih lembut dan bersih, sedangkan oli palsu lebih kasar seperti ada serpihan logam yang tersisa.
Berapa km harus ganti oli?
Oli jaman sekarang mampu bertahan sampai 7 ribu km, bahkan bisa 10 ribu km jika kondisi jalanan yang dilewati tidak macet..akan tetapi biasanya bengkel resmi merekomendasikan 5 ribu km dengan standar pemakaian dalam kota, lebih amannya memang di angka 5 ribu km oli sebaiknya diganti... akan tetapi jika pecinta otomotif tinggal di daerah yang tidak terlalu ramai maka lebih lebih sedikit misalnya 6 ribu km atau 7 rb km tidak masalah
Jika pecinta otomotif memiliki uang yang berlebih mengganti dengan durasi yang lebih cepat pastinya lebih baik misalnya di angka 4000 km atau 3000 km, berikut ulasan kapan mengganti oli yang tepat